Tulisan ini sebenarnya tulisan lama yang saya sunting lagi untuk pengantar materi tanya jawab tentang fotografi petualangan di Paseban.com. Saya posting lagi di blog ini sebagai arsip tulisan saya :)
Dalam dunia fotografi pilihan objek untuk diabadikan bisa sangat tak
terbatas. Yang membatasinya hanyalah ketertarikan dan kemauan
fotografer untuk mengabadikan objek-objek tersebut. Saya sendiri punya
ketertarikan memotret aktivitas petualangan saat pekerjaan saya sebagai
desainer produk di industri peralatan petualangan menuntut saya sering
terlibat dengan aktivitas petualangan dan berinteraksi dengan berbagai
komunitas petualang. Awalnya keterlibatan saya sebatas melakukan riset,
mencari inspirasi untuk pengembangan produk, dan menguji kelayakan
performa produk di medan petualangan sebelum produk itu dipasarkan.
Namun dari serangkaian pengalaman saat beraktivitas itu saya menemukan
banyak momen tak terduga yang sayang dilewatkan begitu saja. Tujuan
memotret pun berubah tidak hanya sekedar membuat dokumentasi untuk
riset. Saya belajar menekuni lebih serius lagi memotret aksi
petualangan, dan memilih untuk mempunyai spesialisasi memotret di bidang
ini.
Menangkap momen saat memotret aksi petualangan adalah tantangan yang
menarik bagi saya. Banyak jenis aksi petualangan. Ada pendakian gunung,
panjat tebing, susur goa, arung jeram, dan aktivitas ekstrim lainnya.
Aktivitas berbeda akan mengantarkan pada tantangan yang berbeda pula.
Dalam foto petualangan, ada target yang masih relevan diterapkan, yaitu
semakin ekstrim aksi - semakin tinggi pula nilai kekuatan fotonya. Hal
inilah yang menyebabkan banyak momen harus didapat lewat usaha keras.
Tantangan lainnya, petualangan umumnya dilakukan di wilayah yang tidak
kita akrabi dan berbeda dengan lingkungan keseharian kita. Sehingga kita
perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi berbagai
kemungkinan yang terjadi.
Apa yang harus dipersiapkan dalam memotret petualangan?
Persiapkan diri, nikmati petualangannya
Memotret petualangan berarti kita pun akan terlibat dalam
petualangannya. Mungkin kita akan menghabiskan waktu berhari-hari di
gunung dan di dalam hutan. Mungkin kita akan turun ke dalam gua yang
pengap dan gelap yang belum pernah dijamah manusia sebelumnya. Mungkin
pula kita akan tergantung berjam-jam di tebing yang curam. Maka tak
perlu menjadi beban, nikmati saja alur petualangan itu. Jika kita
mempersiapkan diri maka kita akan menikmati petualangannya.
Persiapkan Fisik!
Disamping keterampilan memotret, fisik merupakan faktor penting saat
kita berangkat memotret petualangan. Jangan lupakan persiapan fisik
sebelum berangkat memotret terutama jika medan yang akan kita tempuh
membutuhkan waktu panjang, berhari-hari atau berminggu-minggu. Memotret
petualangan menuntut kita menjadi ‘fotografer dua gardan’ karena selama
perjalanan seringkali menemui kondisi alam yang tidak menentu yang
berbeda dengan kondisi lingkungan keseharian kita. Kita tahu memotret
itu sendiri aktivitas yang butuh konsentrasi tinggi, terlebih jika
kita dibebani hal lain selain urusan memotret. Contohnya bagaimana
mengatur perlengkapan dan perbekalan selama perjalanan, bagaimana
mengamankan diri, atau bagaimana mencari cara menangkap momen di tempat
yang sulit dijangkau. Tentunya sebuah pekerjaan yang menguras tenaga
dan konsentrasi. Stamina yang baik akan membantu performa saat memotret
di lapangan. Olahraga yang rutin dan teratur dapat membantu menjaga
kondisi fisik dan kesehatan kita selama memotret. Biasanya saya menambah
porsi latihan sebelum tugas pemotretan. Jika pemotretan itu aktivitas
panjat tebing maka latihan difokuskan pada melatih daya tahan memanjat.
Latihan ini dibutuhkan karena kita akan dihadapkan dengan mencari sudut
bidik di ketinggian, baik dengan memanjat atau meniti tali. Jika
pemotretan pendakian gunung, latihan difokuskan pada daya tahan
berjalan kaki pada posisi menanjak. Latihan ini berguna karena memotret
pendakian menuntut fotografer untuk bergerak aktif mencari momen dari
berbagai arah. Terkadang mobilitas fotografer harus melebihi pergerakan
pendaki itu sendiri.
Luangkan waktu untuk berlatih teknik bertualang dengan aman
Menguasai teknik keterampilan petualangan akan membantu kita saat
memotret
petualangan. Misalnya dengan menguasai dasar-dasar teknik
climbing akan sangat membantu kita menguasai keadaan di tebing yang
terjal. Sebenarnya tidak perlu semahir atlet/petualang profesional yang
sehari-harinya berlatih untuk menguasai teknik secara prima , karena
tujuan atlet dan fotografer itu berbeda. Atlet tujuannya menaklukan
tantangan, sedangkan fotografer bertugas mengabadikannya. Menguasai
beberapa teknik dasar pun sudah cukup untuk bekal memotret (dengan
catatan pemotretan tidak dalam kondisi alam yang ekstrim). Tinggal
bagaimana kita mampu mengoptimalkan fisik kita . Jika belum merasa siap
dengan keterampilan teknis yang kita miliki, kita bisa meminta pemandu
profesional mendampingi kita selama memotret. Namun pergerakan kita
lebih terbatas karena akan tergantung pemandu. Sebaiknya tetap berusaha
menyisihkan waktu untuk berlatih. Penguasaan teknis bertualang akan
meningkatkan kepercayaan diri dan mental kita saat bekerja di lapangan.
Bentuk tim yang solid
Memotret petualangan menuntut kita untuk bekerjasama dengan tim. Dalam
tim bisa terdiri dari para pelaku petualangan, tim pendukung, pemandu,
porter, dan lain sebagainya. Jadi berpikirlah sebagai ‘team player’
bahwa kita akan bekerjasama dengan mereka semua untuk menghasilkan foto
terbaik.
Mencermati momen lebih mendalam
Tingkat kesulitan petualangan biasanya dirujuk menjadi kekuatan foto
karena mampu mewakili suasana dramatis petualangan itu. Tolak ukurnya
tidak terpaku pada faktor aksi saja. Bisa saja diperoleh lewat latar
kondisi alam yang eksotis. Mungkin juga terdapat pada ekspresi
ketegangan pelaku saat menghadapi saat-saat sulit, atau justru pada
suasana riang yang menampilkan gairah bertualang. Berbagai faktor
tersebut bisa saja tampil menjadi kekuatan foto. Yang penting dan perlu
dicermati adalah esensi mengapa sang petualang tergerak melakukan aksi
yang susah-susah itu, yaitu semangat yang tak kenal berhenti menjelajahi
batas kemampuan diri. Semangat petualangannyalah yang kita abadikan
Fokuslah pada tujuan memotret
Adakalanya kita lupa pada tujuan memotret karena terpesona dengan
kondisi alam yang kita temui. Bagi penggemar climbing misalnya, bentang
batuan yang menantang acapkali menggoda untuk turut menjajalnya. Ingat,
tujuan utama kita adalah memotret. Jangan hamburkan energi untuk
aktivitas yang bisa menguras fisik hingga kita bisa jatuh sakit. Atur
waktu sebaik mungkin hingga kita pun masih bisa menikmati kesenangan
kita setelah semua target memotret tuntas. Pergunakan waktu istirahat
sebaik mungkin terutama tidur yang cukup di malam hari. Sekarang bukan
jamannya lagi bergadang di camp, membuang energi sia-sia belaka.
Siapkan kamera cadangan, penyimpan memori dan baterai cadangan
Jika tak ada sumber listrik selama perjalanan, perkirakan secermat
mungkin lama perjalanan dengan ketersediaan sumber listrik untuk kamera.
Cukupkah membawa beberapa baterai cadangan atau harus membawa sumber
energi lain untuk pengisi baterai seperti sumber listrik tenaga surya.
Memotret di tengah kondisi alam yang sulit diprediksi mempunyai tingkat
resiko tinggi. Kamera cadangan dibutuhkan untuk mengantisipasi jika
terjadi masalah dengan kamera utama. Siapkan kamera cadangan sesuai
budjet yang dimiliki, bisa kamera DSLR, prosumer, pocket digital atau
kamera analog. Intinya jangan sampai perjalanan kita tak berbuah apapun
karena kameranya tewas duluan. Siapkan pula wadah yang mampu melindungi
gear anda dengan baik, misalnya tas kamera yang dirancang untuk
aktivitas outdoor.
Rabu, 06 Februari 2013
Tebing terjal tempat kami bermain
Waktu Bang Reynold Sumayku ( Photo Editor National Geographic
Indonesia) menghubungi saya untuk mengisi rubrik “Portfolio” tentang
foto-foto panjat tebing di Majalah National Geographic Traveler, saya tak
merasa bingung soal foto. Karena lebih dari separuh isi hardisk foto
saya berisi foto tentang petualangan. Tapi waktu Bang Reynold
menyampaikan pesan susulannya untuk menyertakan pengantar tulisannya
mengangkat hal yang lebih filosofis, barulah saya mulai bingung :).
Biarpun cuma tulisan pengantar yang tak terlalu panjang, hal filosofis
panjat tebing jarang terlintas di pikiran saya. Yang sering saya
bicarakan dengan teman-teman pemanjat banyaknya urusan teknis. Tapi
itulah tantangannya, kalau tak ada pesan Bang Reynold mungkin hal itu
jadi tak terpikirkan ;)
Untuk apa sih kami memanjat tebing? Membuktikan bahwa gravitasi itu bisa dilawan? Atau biar kelihatan gagah dan kuat? Biar seperti Tom Cruise di Mission Imposible? Atau mirip Primus di iklan obat? :D.. Bagi yang baru kenal dan mencoba kegiatan ini mungkin saja alasan2 unjuk gigi itu masih masuk akal. Tapi bagi yang memanjat sudah menjadi bagian kegiatannya tentu bukan untuk alasan seperti itu lagi. Dalam memanjat saya seringnya malah menyertakan alasan pekerjaan. Entah itu tugas memotret, menguji-coba peralatan panjat tebing yang saya desain, atau membantu penelitian yang butuh dokumentasi di tempat yang susah dijangkau. Sungguh gak ada filosofis-filosofisnya. That's just about work...hehe
Mungkin bagi pemanjat tebing filosofi memanjat sederhana saja. Bagi mereka, dinding tebing adalah taman bermain, tempat belajar dan menempa dirinya. Jadi ya sudah, simak aja foto lengkap dan narasinya di Majalah National Geographic Traveler edisi bulan Februari 2013 ini. Saya kirim penampakannya biar teman-teman pemanjat penasaran siapa aja yang wajahnya nampang di majalah itu. Mudah-mudahan yang nampang nanti bisa jadi bintang iklan obat menggantikan Primus hehehe...
Appreciate to the great team : Mamay Salim , Heni Juhana, Iwan Kwecheng, Tedi Ixdiana, Yuyun Yuniar, Nana Herdiana
Untuk apa sih kami memanjat tebing? Membuktikan bahwa gravitasi itu bisa dilawan? Atau biar kelihatan gagah dan kuat? Biar seperti Tom Cruise di Mission Imposible? Atau mirip Primus di iklan obat? :D.. Bagi yang baru kenal dan mencoba kegiatan ini mungkin saja alasan2 unjuk gigi itu masih masuk akal. Tapi bagi yang memanjat sudah menjadi bagian kegiatannya tentu bukan untuk alasan seperti itu lagi. Dalam memanjat saya seringnya malah menyertakan alasan pekerjaan. Entah itu tugas memotret, menguji-coba peralatan panjat tebing yang saya desain, atau membantu penelitian yang butuh dokumentasi di tempat yang susah dijangkau. Sungguh gak ada filosofis-filosofisnya. That's just about work...hehe
Mungkin bagi pemanjat tebing filosofi memanjat sederhana saja. Bagi mereka, dinding tebing adalah taman bermain, tempat belajar dan menempa dirinya. Jadi ya sudah, simak aja foto lengkap dan narasinya di Majalah National Geographic Traveler edisi bulan Februari 2013 ini. Saya kirim penampakannya biar teman-teman pemanjat penasaran siapa aja yang wajahnya nampang di majalah itu. Mudah-mudahan yang nampang nanti bisa jadi bintang iklan obat menggantikan Primus hehehe...
Appreciate to the great team : Mamay Salim , Heni Juhana, Iwan Kwecheng, Tedi Ixdiana, Yuyun Yuniar, Nana Herdiana
Kamis, 06 Desember 2012
Ini Garut Bung! ( reminder projek yang gak kelar-kelar)
Maraknya berita soal
kasus bupati Garut di media akhir-akhir ini membuat nama Garut makin
berkibar. Beritanya pasti udah pada tahu, jadi gak perlu dibahas
disini. Yang jelas gara-gara kasus itu saya yang sudah terlanjur
dikenal sebagai “turunan Garut” oleh teman, rekan kerja, dan
relasi, kena imbasnya jadi bahan guyonan dan becandaan. Saya memang
turunan Garut. Keluarga ibu saya berasal dari Sukawening Garut. Jadi
saya punya banyak sanak family dan teman di Garut. Saya pun pernah 6
tahun tinggal di Garut untuk sekolah. Karenanya saya cukup mengenal
seluk beluk kota ini. Meski saya lahir, dibesarkan, dan kini tinggal
di kota Bandung.
Tapi kalau gak ada kasus bupati itu mungkin saya gak bakalan buka-buka lagi file foto-foto saya tentang Garut. Saya pernah berencana mengumpulkan dokumentasi foto tentang Garut dilihat dari alamnya, sosial, budaya, termasuk human interestnya. Untuk itulah saya kemudian “mencicil” membuat dokumentasi. Jika ada waktu senggang saya pergi ke Garut untuk memotret. Hal yang sudah lama sekali tak saya lakukan lagi karena kesibukan pekerjaan saya.
Lalu kenapa Garut menarik
bagi saya? Saya pikir apa sih yang tak dimiliki Garut? Gunung punya,
laut pun punya. Belum lagi pantainya, sungai, danau (walau
kecil-kecil), hutan , air panas, semua itu Garut punya. Itu baru
kekayaan alamnya. Belum lagi kekayaan budayanya, kulinernya, budi
daya hayatinya. Garut itu kaya sekali dan eksotis. Karena eksotisnya,
kolonial Belanda menyebut Garut sebagai “Swiss van Java”.
Kebetulan saya pernah berkunjung ke Swiss. Jadi apa memang ada
kesamaan Garut dengan Swiss? Jelas banyak bedanya. Tapi kalau mau
dicari-cari ya ada sih kesamaan yang nyerempet-nyerempet. Semisal
Swiss punya gunung-gunung es –Garut pun punya gunung-gunung api.
Swiss punya coklat – Garut punya dodol. Swiss punya jam & pisau
– Garut punya kriya kulit dan bedog Cibatu. Tapi yang terasa sama
di Garut dan di Swiss bagi saya adalah suasananya yang tenang membuat
waktu seakan bergerak lebih lambat. Di Garut, pagi seolah datang
dengan malu-malu, dan senja hadir dengan romantis.
Jadi tidak ada alasan
untuk tak bangga jadi “turunan Garut” biar kasus bupati itu ramai
diberitakan. Saya berharap kelak akan ada bupati Garut yang mampu
meramu segala potensi Garut itu jadi karakter kota yang kuat. Banyak
kota di belahan negara lain yang punya potensi seperti Garut dan
mampu memaksimalkan potensi itu menjadi kekuatan kotanya. Dan saya
lihat itikad pemerintahnya membangun kotanya berangkat dari tujuan
untuk membuat nyaman-tentram-sejahtera warga domisili aslinya terlebih dahulu.
Semua orang tentu punya impian untuk mengerjakan sesuatu yang
dicintai, bersama orang-orang yang dicintai, di tempat yang juga dia
cintai. Jika sudah mendapat ketiga hal itu, separuh kebahagian
hidupnya sudah terpenuhi. Jadi, kota dibangun atas dasar kecintaan
dan untuk membangun impian-impian warganya. Jika sudah cinta, maka
ada keinginan untuk memberi. Dan kota yang karakternya baik tak perlu
banyak berkoar dan beriklan lagi, karena para tetamu akan berkunjung
dengan sendirinya.
Dan saat saya membuka
lagi file-file foto tentang Garut itu, keinginan untuk meneruskan
projek ini muncul kembali. Saya belum punya tujuan lain dalam membuat
foto-foto itu selain untuk membuat dokumentasi tentang Garut.
Kalaupun ada niat untuk dipublikasikan mungkin sebatas mempresentasikannya
di komunitas-komunitas teman yang saya kenal di Garut. Untuk sekedar
berbagi cerita lewat media foto bahwa betapa kaya, indah, dan
eksotisnya Garut itu. Dan siapa tahu foto-foto itu bisa menggugah semangat untuk membangun kotanya tercinta.
Saya coba tampilkan
sedikit foto-foto tentang Garut di blog ini. Foto yang ditampilkan
baru seputar alam Garut, jadi bisa dibayangkan betapa masih banyak
“PR” yang harus diselesaikan untuk membuat dokumentasi Garut
secara utuh. Dan setelah melihat list pekerjaan yang harus saya
selesaikan di kantor, saya jadi sangsi kalau projek itu bisa
diselesaikan dalam waktu dekat ini. Hadeuuhh...
![]() |
| Pagi di Cimaragas dengan latar belakang Gunung Cikurai yang terhalang kabut |
![]() |
| Pagi di Cisewu |
![]() |
| Senja di Sayang Heulang |
![]() |
| Senja di Pameungpeuk |
![]() |
| Senja di leuweung Sancang |
![]() |
| Pagi di Rancabuaya |
![]() |
| Senja di Sancang |
![]() |
| Senja di Sancang |
![]() |
| Cimaragas menyambut pagi |
![]() |
| Hamparan sawah di Cimaragas |
![]() |
| Kota Garut di pagi hari. Dengan latar Gunung Guntur |
![]() |
| Hamparan sawah di Sawah lega |
![]() |
| Papandayan, Gunung api aktif |
| Pendaki Gunung Papandayan di pagi hari |
![]() |
| Gunung Papandayan |
![]() | |
| Pagi di Pameungpeuk |
Minggu, 27 November 2011
Mount Eiger Switzerland – Pesona Sang Raksasa di Jantung Alpen
Tulisan
dan foto tentang Mount Eiger – Switzerland ini bisa dibaca
selengkapnya di majalah National Geographic Traveler edisi Desember
2011 yang sudah terbit akhir bulan November ini. Berikut sedikit
ulasannya :
Sejarah
turisme Switzerland yang dikenal sebagai negara tujuan wisata di
dunia tidak bisa lepas dari kisah heroik para pendaki gunung yang
berjuang menaklukan gunung-gunung di gugusan pegunungan Alpen yang
membentang di Eropa barat melewati negara-negara Italia, Swiss,
Jerman, Austria, hingga ke Yugoslavia. Kisah para pendaki Alpen
sering Kang Mamay ceritakan kepada saya, dan cerita-cerita itu
mengusik rasa ingin tahu saya tentang pegunungan Alpen yang diyakini
sebagai 'tanah leluhurnya' pendakian gunung di dunia. Kisah-kisah itu
menjadi semacam pengantar untuk memahami apa yang ada di benak para
pendaki gunung untuk ‘bersusah-susah’ mendaki gunung. Bagi saya,
perjalanan ke Alpen seakan menelusuri silsilah pendakian gunung dari
akarnya. Dalam profesi desainer produk yang saya tekuni, cara itu
menjadi bagian dari proses kreatif. Dengan memahaminya, saya berharap
dapat memperkaya cara berpikir saya dalam merancang produk untuk
para pendaki gunung.
Destinasi
petualangan di Swiss lahir dari sejarah panjang antusiasme para
pelancong untuk mendaki titik-titik tertinggi gunung-gunungnya.
Catatan-catatan penting sejarah pendakian gunung di Switzerland dan
Eropa merujuk pada antusiasme pendakian ke Gunung Eiger yang seakan
tidak pernah mengenal kata surut. Sejak puncaknya pertama kali
dicapai lewat jalur sisi barat pada 11 Agustus tahun 1858, hingga
saat ini pencapaian para pendaki gunung untuk menorehkan tinta emas
pada pendakian Gunung Eiger terutama dinding utaranya masih terus
berlangsung. Rekor demi rekor kecepatan pendakian terus ditorehkan
para pendaki gunung dari berbagai belahan dunia.
Di
era sebelum perang dunia, euforia penaklukan dinding utara Eiger
berhembus begitu kencang hingga masuk ke wilayah politik. Para
pendaki gunung berlomba menaklukan dinding utara Eiger tidak hanya
dengan misi membawa kebesaran nama dan kepentingan pribadinya,
melainkan juga membawa motivasi untuk kebanggaan dan nama besar
bangsanya. Adolf Hitler dan partai Nazi Jerman mempunyai kepentingan
dalam obsesi penaklukan dinding maut ini. Tahun 1936 Jerman akan
menggelar Summer Olympic di Berlin. Kesuksesan pendakian di dinding
utara Eiger akan menjadi api yang menyulut semangat dan kebesaran
bangsa Jerman, sehingga Hitler menjanjikan medali setingkat medali
emas Olympiade bagi pendaki pertama yang berhasil menaklukan dinding
utara Eiger.
Menelusuri
jantung pegunungan Alpen, membuat kisah-kisah heroik pendakian Eiger
bukan sekedar dongeng penghibur turis. Kisah-kisah pendaki gunung
itu seakan menjadi pengantar untuk memahami kedekatan gunung dalam
tradisi dan budaya masyarakat Swiss dan masyarakat di gugusan
pegunungan Alpen. Termasuk, mendapatkan (sedikit) jawaban, mengapa
para pendaki gunung itu mau bersusah-payah mendakinya.
![]() |
Pemandangan
dinding utara Mount Eiger akan terlihat jelas dari kereta yang
berangkat dari kota Grindelwald menuju Kleine Scheidegg.
|
![]() |
Menuju
lokasi kemah induk di Eigergletscer melalui Jungfrau Eiger Walk
|
![]() |
Cuaca
buruk kerap menyelimuti lokasi kemah induk di Eigergletscer. Tempat
ini aman dari longsoran es, namun gemuruh longsoran di sekitarnya
terdengar jelas sepanjang hari.
|
![]() |
Melewati
medan campuran antara es dan bebatuan kadang merepotkan pendaki.
Crampon (sepatu es berpaku) dan kampak es mempermudah pendaki melalui
es , namun merepotkan saat melalui medan berbatu.
|
Kamis, 28 April 2011
Presentasi foto petualangan.National Geographic Indonesia - gatheting member forum
Presentasi foto petualangan di National Geographic Indonesia - gatheting member forum. Bandung 15 April 2011. Semoga foto2 yang dipresentasikan turut memacu teman-teman yang lainnya untuk terus berkarya.
(foto-foto oleh Yandez Albarsyah)
(foto-foto oleh Yandez Albarsyah)
![]() |
| sharing dari NGI crew |
![]() |
| Pengantar dari Kang Mamay S. Salim. Expert&Senior Climber, sekaligus adventure consultant |
![]() |
| Pengantar dari Kang Mamay S. Salim. Expert&Senior Climber, sekaligus adventure consultant |
![]() |
| Audien |
![]() |
| Presentasi foto petualangan. Saya mempresentasikan foto-foto petualangan yang meliputi climbing, mountaineering, caving, canyoing, dan image-image yang dibuat untuk materi advertising Eiger |
![]() |
| Presentasi foto |
![]() |
| Presentasi foto |
![]() |
| Dipandu MC yang kocak, kang Deni Sugandi |
![]() |
| Foto bersama |
Sabtu, 26 Februari 2011
Pesona Gunung Kelud
Gunung Kelud memang menyimpan banyak pesona. Nama gunung yang saya kenal dari permainan adu gambar sewaktu SD dulu - karena selalu ada gambar gunung meletus di urutan terakhir gambar, nomor 36, dengan inisial GK (kalau saya jadikan kojo adu gambar suka kalah melulu :) ). Gunung yang terletak di Kediri - Jawa Timur ini menjadi salah satu gunung berapi yang misterius karena pola letusannya sulit diduga dan berubah-ubah dari letusan ke letusan. Walaupun begitu, jangan ditanya tentang keindahan gunung ini. Bagi para pemanjat, Gunung Kelud menawarkan pesona lain. Bentang batuan beku yang kokoh dikelilingi panorama yang indah dan hawanya yang sejuk membuat siapa pun yang pernah memanjat disini menyepakati kalau Gunung Kelud merupakan salah satu dari beberapa lokasi pemanjatan terindah di Pulau Jawa. Silahkan mampir dan lihat sendiri ke Kediri. Saya cuman bisa berbagi sedikit lewat foto-foto sewaktu penugasan memotret pemanjatan di Gunung Kelud
![]() |
| Base Camp Pemanjat tepat dibawah tebing pemanjatan |
![]() |
| Tedi Ixdiana, pemanjat tebing profesional ,memanjat salah satu jalur di Gunung Kelud |
![]() |
| Tedi Ixdiana memasang pengaman piton. Latar belakang adalah bentukan baru lava yang dulunya danau kawah |
![]() |
| Tedi Ixdiana dengan belayer Iwan Kwecheng melakukan pemanjatan hanging belay di multi pitch route |
![]() |
| Hanging rest - istirahat di ketinggian |
![]() |
| Iwan Kwecheng memanjat jalur crack. Di gunung Kelud sudah dibuat banyak jalur sport climbing |
![]() |
| Iwan Kwecheng berjibaku di crack. Saya suka dengan momentum pemanjat memaksimalkan teknik laybacknya di jalur-jalur crack panjang |
| Medan scrambling dengan latar belakang kubah lava |
![]() |
| Nana hediana memanjat di jalur-jalur sport. Latar belakang adalah tangga menuju puncak menara pandang yang terletak berseberangan dengan tebing yang dipanjat |
![]() |
| Bouldering / pemanjatan jalur pendek |
![]() |
| Proses ketika saya mendokumentasikan pemanjatan. Triangle movement , climber - belayer - dokumenter |
Langganan:
Postingan (Atom)
























































