Rabu, 06 Februari 2013

Fotografi petualangan : kerja keras dimulai jauh sebelum momen petualangan diabadikan

Tulisan ini sebenarnya tulisan lama yang saya sunting lagi untuk pengantar materi tanya jawab tentang fotografi petualangan di Paseban.com. Saya posting lagi di blog ini  sebagai arsip tulisan saya :)


Dalam dunia fotografi pilihan objek untuk diabadikan bisa sangat tak terbatas. Yang membatasinya hanyalah ketertarikan dan kemauan fotografer untuk mengabadikan objek-objek tersebut. Saya sendiri punya ketertarikan memotret aktivitas petualangan saat pekerjaan saya sebagai desainer produk di industri peralatan petualangan menuntut saya sering terlibat dengan aktivitas petualangan dan berinteraksi dengan berbagai komunitas petualang. Awalnya keterlibatan saya sebatas melakukan riset, mencari inspirasi untuk pengembangan produk, dan menguji kelayakan performa produk di medan petualangan sebelum produk itu dipasarkan. Namun dari serangkaian pengalaman saat beraktivitas itu saya menemukan banyak momen tak terduga yang sayang dilewatkan begitu saja. Tujuan memotret pun berubah tidak hanya sekedar membuat dokumentasi untuk riset. Saya belajar menekuni lebih serius lagi memotret aksi petualangan, dan memilih untuk mempunyai spesialisasi memotret di bidang ini.

Menangkap momen saat memotret aksi petualangan adalah tantangan yang menarik bagi saya. Banyak jenis aksi petualangan. Ada pendakian gunung, panjat tebing, susur goa, arung jeram, dan aktivitas ekstrim lainnya. Aktivitas berbeda akan mengantarkan pada tantangan yang berbeda pula. Dalam foto petualangan, ada target yang masih relevan diterapkan, yaitu semakin ekstrim aksi - semakin tinggi pula nilai kekuatan fotonya. Hal inilah yang menyebabkan banyak momen harus didapat lewat usaha keras. Tantangan lainnya, petualangan umumnya dilakukan di wilayah yang tidak kita akrabi dan berbeda dengan lingkungan keseharian kita. Sehingga kita perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.

Apa yang harus dipersiapkan dalam memotret petualangan?

Persiapkan diri, nikmati petualangannya
Memotret petualangan berarti kita pun akan terlibat dalam petualangannya. Mungkin kita akan menghabiskan waktu berhari-hari di gunung dan di dalam hutan. Mungkin kita akan turun ke dalam gua yang pengap dan gelap yang belum pernah dijamah manusia sebelumnya. Mungkin pula kita akan tergantung berjam-jam di tebing yang curam. Maka tak perlu menjadi beban, nikmati saja alur petualangan itu. Jika kita mempersiapkan diri maka kita akan menikmati petualangannya.


Persiapkan Fisik!
Disamping keterampilan memotret, fisik merupakan faktor penting saat kita berangkat memotret petualangan. Jangan lupakan persiapan fisik sebelum berangkat memotret terutama jika medan yang akan kita tempuh membutuhkan waktu panjang, berhari-hari atau berminggu-minggu. Memotret petualangan menuntut kita menjadi ‘fotografer dua gardan’ karena selama perjalanan seringkali menemui kondisi alam yang tidak menentu yang berbeda dengan kondisi lingkungan keseharian kita. Kita tahu memotret itu sendiri aktivitas yang butuh konsentrasi tinggi, terlebih jika kita dibebani hal lain selain urusan memotret. Contohnya bagaimana mengatur perlengkapan dan perbekalan selama perjalanan, bagaimana mengamankan diri, atau bagaimana mencari cara menangkap momen di tempat yang sulit dijangkau. Tentunya sebuah pekerjaan yang menguras tenaga dan konsentrasi. Stamina yang baik akan membantu performa saat memotret di lapangan. Olahraga yang rutin dan teratur dapat membantu menjaga kondisi fisik dan kesehatan kita selama memotret. Biasanya saya menambah porsi latihan sebelum tugas pemotretan. Jika pemotretan itu aktivitas panjat tebing maka latihan difokuskan pada melatih daya tahan memanjat. Latihan ini dibutuhkan karena kita akan dihadapkan dengan mencari sudut bidik di ketinggian, baik dengan memanjat atau meniti tali. Jika pemotretan pendakian gunung, latihan difokuskan pada daya tahan berjalan kaki pada posisi menanjak. Latihan ini berguna karena memotret pendakian menuntut fotografer untuk bergerak aktif mencari momen dari berbagai arah. Terkadang mobilitas fotografer harus melebihi pergerakan pendaki itu sendiri.


Luangkan waktu untuk berlatih teknik bertualang dengan aman
Menguasai teknik keterampilan petualangan akan membantu kita saat memotret 

petualangan. Misalnya dengan menguasai dasar-dasar teknik climbing akan sangat membantu kita menguasai keadaan di tebing yang terjal. Sebenarnya tidak perlu semahir atlet/petualang profesional yang sehari-harinya berlatih untuk menguasai teknik secara prima , karena tujuan atlet dan fotografer itu berbeda. Atlet tujuannya menaklukan tantangan, sedangkan fotografer bertugas mengabadikannya. Menguasai beberapa teknik dasar pun sudah cukup untuk bekal memotret (dengan catatan pemotretan tidak dalam kondisi alam yang ekstrim). Tinggal bagaimana kita mampu mengoptimalkan fisik kita . Jika belum merasa siap dengan keterampilan teknis yang kita miliki, kita bisa meminta pemandu profesional mendampingi kita selama memotret. Namun pergerakan kita lebih terbatas karena akan tergantung pemandu. Sebaiknya tetap berusaha menyisihkan waktu untuk berlatih. Penguasaan teknis bertualang akan meningkatkan kepercayaan diri dan mental kita saat bekerja di lapangan.

Bentuk tim yang solid
Memotret petualangan menuntut kita untuk bekerjasama dengan tim. Dalam tim bisa terdiri dari para pelaku petualangan, tim pendukung, pemandu, porter, dan lain sebagainya. Jadi berpikirlah sebagai ‘team player’ bahwa kita akan bekerjasama dengan mereka semua untuk menghasilkan foto terbaik.


Mencermati momen lebih mendalam
Tingkat kesulitan petualangan biasanya dirujuk menjadi kekuatan foto karena mampu mewakili suasana dramatis petualangan itu. Tolak ukurnya tidak terpaku pada faktor aksi saja. Bisa saja diperoleh lewat latar kondisi alam yang eksotis. Mungkin juga terdapat pada ekspresi ketegangan pelaku saat menghadapi saat-saat sulit, atau justru pada suasana riang yang menampilkan gairah bertualang. Berbagai faktor tersebut bisa saja tampil menjadi kekuatan foto. Yang penting dan perlu dicermati adalah esensi mengapa sang petualang tergerak melakukan aksi yang susah-susah itu, yaitu semangat yang tak kenal berhenti menjelajahi batas kemampuan diri. Semangat petualangannyalah yang kita abadikan


Fokuslah pada tujuan memotret
Adakalanya kita lupa pada tujuan memotret karena terpesona dengan kondisi alam yang kita temui. Bagi penggemar climbing misalnya, bentang batuan yang menantang acapkali menggoda untuk turut menjajalnya. Ingat, tujuan utama kita adalah memotret. Jangan hamburkan energi untuk aktivitas yang bisa menguras fisik hingga kita bisa jatuh sakit. Atur waktu sebaik mungkin hingga kita pun masih bisa menikmati kesenangan kita setelah semua target memotret tuntas. Pergunakan waktu istirahat sebaik mungkin terutama tidur yang cukup di malam hari. Sekarang bukan jamannya lagi bergadang di camp, membuang energi sia-sia belaka.


Siapkan kamera cadangan, penyimpan memori dan baterai cadangan
Jika tak ada sumber listrik selama perjalanan, perkirakan secermat mungkin lama perjalanan dengan ketersediaan sumber listrik untuk kamera. Cukupkah membawa beberapa baterai cadangan atau harus membawa sumber energi lain untuk pengisi baterai seperti sumber listrik tenaga surya. Memotret di tengah kondisi alam yang sulit diprediksi mempunyai tingkat resiko tinggi. Kamera cadangan dibutuhkan untuk mengantisipasi jika terjadi masalah dengan kamera utama. Siapkan kamera cadangan sesuai budjet yang dimiliki, bisa kamera DSLR, prosumer, pocket digital atau kamera analog. Intinya jangan sampai perjalanan kita tak berbuah apapun karena kameranya tewas duluan. Siapkan pula wadah yang mampu melindungi gear anda dengan baik, misalnya tas kamera yang dirancang untuk aktivitas outdoor.









Tebing terjal tempat kami bermain


Waktu Bang Reynold Sumayku ( Photo Editor National Geographic Indonesia) menghubungi saya untuk mengisi rubrik “Portfolio” tentang foto-foto panjat tebing di Majalah National Geographic Traveler, saya tak merasa bingung soal foto. Karena lebih dari separuh isi hardisk foto saya berisi foto tentang petualangan. Tapi waktu Bang Reynold menyampaikan pesan susulannya untuk menyertakan pengantar tulisannya mengangkat hal yang lebih filosofis, barulah saya mulai bingung :). Biarpun cuma tulisan pengantar yang tak terlalu panjang, hal filosofis panjat tebing jarang terlintas di pikiran saya. Yang sering saya bicarakan dengan teman-teman pemanjat banyaknya urusan teknis. Tapi itulah tantangannya, kalau tak ada pesan Bang Reynold mungkin hal itu jadi tak terpikirkan ;)

Untuk apa sih kami memanjat tebing? Membuktikan bahwa gravitasi itu bisa dilawan? Atau biar kelihatan gagah dan kuat? Biar seperti Tom Cruise di Mission Imposible? Atau mirip Primus di iklan obat? :D.. Bagi yang baru kenal dan mencoba kegiatan ini mungkin saja alasan2 unjuk gigi itu masih masuk akal. Tapi bagi yang memanjat sudah menjadi bagian kegiatannya tentu bukan untuk alasan seperti itu lagi. Dalam memanjat saya seringnya malah menyertakan alasan pekerjaan. Entah itu tugas memotret, menguji-coba peralatan panjat tebing yang saya desain, atau membantu penelitian yang butuh dokumentasi di tempat yang susah dijangkau. Sungguh gak ada filosofis-filosofisnya. That's just about work...hehe

Mungkin bagi pemanjat tebing filosofi memanjat sederhana saja. Bagi mereka, dinding tebing adalah taman bermain, tempat belajar dan menempa dirinya. Jadi ya sudah, simak aja foto lengkap dan narasinya di Majalah National Geographic Traveler edisi bulan Februari 2013 ini. Saya kirim penampakannya biar teman-teman pemanjat penasaran siapa aja yang wajahnya nampang di majalah itu. Mudah-mudahan yang nampang nanti bisa jadi bintang iklan obat menggantikan Primus hehehe...

Appreciate to the great team : Mamay Salim , Heni Juhana, Iwan Kwecheng, Tedi Ixdiana, Yuyun Yuniar, Nana Herdiana
 




 
 

Kamis, 06 Desember 2012

Ini Garut Bung! ( reminder projek yang gak kelar-kelar)

Maraknya berita soal kasus bupati Garut di media akhir-akhir ini membuat nama Garut makin berkibar. Beritanya pasti udah pada tahu, jadi gak perlu dibahas disini. Yang jelas gara-gara kasus itu saya yang sudah terlanjur dikenal sebagai “turunan Garut” oleh teman, rekan kerja, dan relasi, kena imbasnya jadi bahan guyonan dan becandaan. Saya memang turunan Garut. Keluarga ibu saya berasal dari Sukawening Garut. Jadi saya punya banyak sanak family dan teman di Garut. Saya pun pernah 6 tahun tinggal di Garut untuk sekolah. Karenanya saya cukup mengenal seluk beluk kota ini. Meski saya lahir, dibesarkan, dan kini tinggal di kota Bandung.

Tapi kalau gak ada kasus bupati itu mungkin saya gak bakalan buka-buka lagi file foto-foto saya tentang Garut. Saya pernah berencana mengumpulkan dokumentasi foto tentang Garut dilihat dari alamnya, sosial, budaya, termasuk human interestnya. Untuk itulah saya kemudian “mencicil” membuat dokumentasi. Jika ada waktu senggang saya pergi ke Garut untuk memotret. Hal yang sudah lama sekali tak saya lakukan lagi karena kesibukan pekerjaan saya.

Lalu kenapa Garut menarik bagi saya? Saya pikir apa sih yang tak dimiliki Garut? Gunung punya, laut pun punya. Belum lagi pantainya, sungai, danau (walau kecil-kecil), hutan , air panas, semua itu Garut punya. Itu baru kekayaan alamnya. Belum lagi kekayaan budayanya, kulinernya, budi daya hayatinya. Garut itu kaya sekali dan eksotis. Karena eksotisnya, kolonial Belanda menyebut Garut sebagai “Swiss van Java”. Kebetulan saya pernah berkunjung ke Swiss. Jadi apa memang ada kesamaan Garut dengan Swiss? Jelas banyak bedanya. Tapi kalau mau dicari-cari ya ada sih kesamaan yang nyerempet-nyerempet. Semisal Swiss punya gunung-gunung es –Garut pun punya gunung-gunung api. Swiss punya coklat – Garut punya dodol. Swiss punya jam & pisau – Garut punya kriya kulit dan bedog Cibatu. Tapi yang terasa sama di Garut dan di Swiss bagi saya adalah suasananya yang tenang membuat waktu seakan bergerak lebih lambat. Di Garut, pagi seolah datang dengan malu-malu, dan senja hadir dengan romantis.

Jadi tidak ada alasan untuk tak bangga jadi “turunan Garut” biar kasus bupati itu ramai diberitakan. Saya berharap kelak akan ada bupati Garut yang mampu meramu segala potensi Garut itu jadi karakter kota yang kuat. Banyak kota di belahan negara lain yang punya potensi seperti Garut dan mampu memaksimalkan potensi itu menjadi kekuatan kotanya. Dan saya lihat itikad pemerintahnya membangun kotanya berangkat dari tujuan untuk membuat nyaman-tentram-sejahtera warga domisili aslinya terlebih dahulu. Semua orang tentu punya impian untuk mengerjakan sesuatu yang dicintai, bersama orang-orang yang dicintai, di tempat yang juga dia cintai. Jika sudah mendapat ketiga hal itu, separuh kebahagian hidupnya sudah terpenuhi. Jadi, kota dibangun atas dasar kecintaan dan untuk membangun impian-impian warganya. Jika sudah cinta, maka ada keinginan untuk memberi. Dan kota yang karakternya baik tak perlu banyak berkoar dan beriklan lagi, karena para tetamu akan berkunjung dengan sendirinya.

Dan saat saya membuka lagi file-file foto tentang Garut itu, keinginan untuk meneruskan projek ini muncul kembali. Saya belum punya tujuan lain dalam membuat foto-foto itu selain untuk membuat dokumentasi tentang Garut. Kalaupun ada niat untuk dipublikasikan mungkin sebatas mempresentasikannya di komunitas-komunitas teman yang saya kenal di Garut. Untuk sekedar berbagi cerita lewat media foto bahwa betapa kaya, indah, dan eksotisnya Garut itu. Dan siapa tahu foto-foto itu bisa menggugah semangat untuk membangun kotanya tercinta.

Saya coba tampilkan sedikit foto-foto tentang Garut di blog ini. Foto yang ditampilkan baru seputar alam Garut, jadi bisa dibayangkan betapa masih banyak “PR” yang harus diselesaikan untuk membuat dokumentasi Garut secara utuh. Dan setelah melihat list pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor, saya jadi sangsi kalau projek itu bisa diselesaikan dalam waktu dekat ini. Hadeuuhh...

Pagi di Cimaragas dengan latar belakang Gunung Cikurai yang terhalang kabut

Pagi di Cisewu

Senja di Sayang Heulang

Senja di Pameungpeuk

Senja di leuweung Sancang

Pagi di Rancabuaya

Senja di Sancang

Senja di Sancang

Cimaragas menyambut pagi

Hamparan sawah di Cimaragas

Kota Garut di pagi hari. Dengan latar Gunung Guntur

Hamparan sawah di Sawah lega

Papandayan, Gunung api aktif

Pendaki Gunung Papandayan di pagi hari

Gunung Papandayan

Pagi di Pameungpeuk

Minggu, 27 November 2011

Mount Eiger Switzerland – Pesona Sang Raksasa di Jantung Alpen


Tulisan dan foto tentang Mount Eiger – Switzerland ini bisa dibaca selengkapnya di majalah National Geographic Traveler edisi Desember 2011 yang sudah terbit akhir bulan November ini. Berikut sedikit ulasannya :

Sejarah turisme Switzerland yang dikenal sebagai negara tujuan wisata di dunia tidak bisa lepas dari kisah heroik para pendaki gunung yang berjuang menaklukan gunung-gunung di gugusan pegunungan Alpen yang membentang di Eropa barat melewati negara-negara Italia, Swiss, Jerman, Austria, hingga ke Yugoslavia. Kisah para pendaki Alpen sering Kang Mamay ceritakan kepada saya, dan cerita-cerita itu mengusik rasa ingin tahu saya tentang pegunungan Alpen yang diyakini sebagai 'tanah leluhurnya' pendakian gunung di dunia. Kisah-kisah itu menjadi semacam pengantar untuk memahami apa yang ada di benak para pendaki gunung untuk ‘bersusah-susah’ mendaki gunung. Bagi saya, perjalanan ke Alpen seakan menelusuri silsilah pendakian gunung dari akarnya. Dalam profesi desainer produk yang saya tekuni, cara itu menjadi bagian dari proses kreatif. Dengan memahaminya, saya berharap dapat memperkaya cara berpikir saya dalam merancang produk untuk para pendaki gunung.

Destinasi petualangan di Swiss lahir dari sejarah panjang antusiasme para pelancong untuk mendaki titik-titik tertinggi gunung-gunungnya. Catatan-catatan penting sejarah pendakian gunung di Switzerland dan Eropa merujuk pada antusiasme pendakian ke Gunung Eiger yang seakan tidak pernah mengenal kata surut. Sejak puncaknya pertama kali dicapai lewat jalur sisi barat pada 11 Agustus tahun 1858, hingga saat ini pencapaian para pendaki gunung untuk menorehkan tinta emas pada pendakian Gunung Eiger terutama dinding utaranya masih terus berlangsung. Rekor demi rekor kecepatan pendakian terus ditorehkan para pendaki gunung dari berbagai belahan dunia.

Di era sebelum perang dunia, euforia penaklukan dinding utara Eiger berhembus begitu kencang hingga masuk ke wilayah politik. Para pendaki gunung berlomba menaklukan dinding utara Eiger tidak hanya dengan misi membawa kebesaran nama dan kepentingan pribadinya, melainkan juga membawa motivasi untuk kebanggaan dan nama besar bangsanya. Adolf Hitler dan partai Nazi Jerman mempunyai kepentingan dalam obsesi penaklukan dinding maut ini. Tahun 1936 Jerman akan menggelar Summer Olympic di Berlin. Kesuksesan pendakian di dinding utara Eiger akan menjadi api yang menyulut semangat dan kebesaran bangsa Jerman, sehingga Hitler menjanjikan medali setingkat medali emas Olympiade bagi pendaki pertama yang berhasil menaklukan dinding utara Eiger.

Menelusuri jantung pegunungan Alpen, membuat kisah-kisah heroik pendakian Eiger bukan sekedar dongeng penghibur turis. Kisah-kisah pendaki gunung itu seakan menjadi pengantar untuk memahami kedekatan gunung dalam tradisi dan budaya masyarakat Swiss dan masyarakat di gugusan pegunungan Alpen. Termasuk, mendapatkan (sedikit) jawaban, mengapa para pendaki gunung itu mau bersusah-payah mendakinya.

Pemandangan dinding utara Mount Eiger akan terlihat jelas dari kereta yang berangkat dari kota Grindelwald menuju Kleine Scheidegg.


Menuju lokasi kemah induk di Eigergletscer melalui Jungfrau Eiger Walk

Cuaca buruk kerap menyelimuti lokasi kemah induk di Eigergletscer. Tempat ini aman dari longsoran es, namun gemuruh longsoran di sekitarnya terdengar jelas sepanjang hari.

Tali ditambatkan untuk mengamankan diri saat melewati ‘jembatan es’ Eigergletscer. Jika es runtuh, maka tubuh akan terperosok dan terseret puluhan meter dalam aliran air es yang dingin, dan keluar dari terowongan es dalam keadaan membeku


Melewati medan campuran antara es dan bebatuan kadang merepotkan pendaki. Crampon (sepatu es berpaku) dan kampak es mempermudah pendaki melalui es , namun merepotkan saat melalui medan berbatu.


Kamis, 28 April 2011

Presentasi foto petualangan.National Geographic Indonesia - gatheting member forum

Presentasi foto petualangan di National Geographic Indonesia - gatheting member forum. Bandung 15 April 2011. Semoga foto2 yang dipresentasikan turut memacu teman-teman yang lainnya untuk terus berkarya.
(foto-foto oleh Yandez Albarsyah)




sharing dari NGI crew

Pengantar dari Kang Mamay S. Salim. Expert&Senior Climber, sekaligus adventure consultant

Pengantar dari Kang Mamay S. Salim. Expert&Senior Climber, sekaligus adventure consultant

Audien

Presentasi foto petualangan. Saya mempresentasikan foto-foto petualangan yang meliputi climbing, mountaineering, caving, canyoing, dan image-image yang dibuat untuk materi advertising Eiger 

Presentasi foto

Presentasi foto


Dipandu MC yang kocak,  kang Deni Sugandi



Foto bersama


Sabtu, 26 Februari 2011

Pesona Gunung Kelud

Gunung Kelud memang menyimpan banyak pesona. Nama gunung yang saya kenal dari permainan adu gambar sewaktu SD dulu - karena selalu ada gambar gunung meletus di urutan terakhir gambar, nomor 36, dengan inisial GK (kalau saya jadikan kojo adu gambar suka kalah melulu :) ). Gunung yang terletak di Kediri - Jawa Timur ini menjadi salah satu gunung berapi yang  misterius karena pola letusannya sulit diduga dan berubah-ubah dari letusan ke letusan. Walaupun begitu, jangan ditanya tentang keindahan gunung ini. Bagi para pemanjat, Gunung Kelud menawarkan pesona lain. Bentang batuan beku yang kokoh dikelilingi panorama yang indah dan hawanya yang sejuk membuat siapa pun yang pernah memanjat disini menyepakati kalau Gunung Kelud merupakan salah satu dari beberapa lokasi pemanjatan terindah di Pulau Jawa.   Silahkan mampir dan lihat sendiri ke Kediri. Saya cuman bisa berbagi sedikit lewat foto-foto sewaktu penugasan memotret pemanjatan di Gunung Kelud

Tebing pemanjatan di Gunung Kelud dengan panoramanya
yang menawan

 



























Base Camp Pemanjat tepat dibawah tebing pemanjatan

 

Tedi Ixdiana, pemanjat tebing profesional ,memanjat salah satu jalur di Gunung Kelud

Tedi Ixdiana memasang pengaman piton. Latar belakang adalah bentukan
baru lava yang dulunya danau kawah



Tedi Ixdiana dengan belayer Iwan Kwecheng melakukan
pemanjatan hanging belay di multi pitch route




Hanging rest - istirahat di ketinggian




Iwan Kwecheng memanjat jalur crack. Di gunung Kelud
sudah dibuat banyak jalur sport climbing







 



Iwan Kwecheng berjibaku di crack. Saya suka dengan
momentum pemanjat memaksimalkan teknik laybacknya
di jalur-jalur crack panjang

Medan scrambling dengan latar belakang kubah lava

Nana hediana memanjat di jalur-jalur sport. Latar belakang adalah tangga menuju puncak
menara pandang yang terletak berseberangan dengan tebing yang dipanjat  
Bouldering / pemanjatan jalur pendek

Proses ketika saya mendokumentasikan pemanjatan. Triangle
movement , climber -  belayer - dokumenter